Sanggarbambu di Antara ‘Kanan’ dan ‘Kiri’
Sanggarbambu terbentuk pada 1 April 1959 di Yogyakarta, di tengah masa penuh pergolakan sosial-politik Indonesia. Ia tumbuh dari semangat idealisme seniman muda yang ingin menjembatani seni dengan masyarakat. Di bawah kepemimpinan Soenarto Pr., sanggar ini tak hanya menjadi ruang berkarya, tapi juga sebagai simbol cara baru untuk “menjadi seniman Indonesia” di antara tekanan ideologi dan […]
The Last Geishas: Menjaga Ingatan atas Tradisi yang Hampir Punah
Pertunjukan The Last Geishas karya Shingo Ōta dan Kyoko Takenaka membuka ruang refleksi tentang kelangsungan salah satu tradisi tertua Jepang yang kini berada di ambang kepunahan: geisha. Karya ini bukan sekadar pertunjukan teater, melainkan bentuk dokumenter hidup yang menggabungkan riset lapangan, performans, dan kritik sosial. Dengan mengandalkan perpaduan teks, video, musik, serta gerak tubuh, The […]
Sanggarbambu: Seni dari Rakyat untuk Rakyat
Sanggarbambu berdiri pada 01 April 1959 di Yogyakarta, dipelopori oleh Kirjomulyo dan Soenarto Pr., bersama sejumlah seniman muda. Nama “Bambu” dipilih karena bambu adalah lambang kesederhanaan sekaligus kekuatan. Ia bisa tumbuh di mana saja, berguna bagi banyak hal, serta menjadi simbol perjuangan rakyat dalam wujud bambu runcing pada masa revolusi. Semangat itu pula yang dihidupi […]
Di Balik Pameran “Adu Manis”
Pameran Adu Manis membawa kita masuk dalam ‘museum khayal’ tiga perupa, Gabriel Aries, Reggie Aquara, dan Rendy Pramudya. Pemilihan judul “Adu Manis”, diambil dari istilah pertukangan tradisional, yaitu teknik penyambungan dua bidang kayu dengan potongan presisi 45 derajat yang menghasilkan sambungan sempurna bersudut 90 derajat, atau kita bisa melihatnya dalam sudut-sudut sebuah pigura. Teknik ini […]
Les Justes: Bom yang Gemetar di Tangan, Nurani yang Gemetar di Hati
Les Justes, yang dalam terjemahan Arif Budiman menjadi Teroris, adalah salah satu karya teater paling penting yang ditulis oleh Albert Camus, seorang filsuf Prancis yang terkenal dengan gagasan absurdisme dan humanisme. Karya ini bukan hanya sebuah drama panggung yang menegangkan, tetapi juga sebuah perenungan mendalam tentang konflik moral antara idealisme revolusioner dan nilai-nilai kemanusiaan yang […]
Menjadi Indonesia: Proyek Kebangsaan yang Tak Pernah Selesai
Catatan pendek pemikiran Parakitri T. Simbolon. Apa artinya menjadi Indonesia? Pertanyaan ini terdengar sederhana, namun kita masih berhati-hati untuk memberikan jawaban yang pasti. Dalam konteks hari ini, ketika identitas kebangsaan kerap dipertanyakan dan bahkan ditarik-tarik untuk kepentingan politik sesaat, pertanyaan ini kembali penting untuk diajukan. Parakitri T. Simbolon, dalam karyanya Menjadi Indonesia, mengajak kita […]
Memaknai 80 Tahun Kemerdekaan Indonesia dengan Membaca Ulang Naskah Sidang BPUPKI
Pada 2025 ini, sudah 80 tahun Indonesia merdeka. Perjalanan panjang dilewati untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa hingga hari ini. Meski dalam perjalanannya kita melalui berbagai fenomena yang mencederai kemerdekaan tersebut, dari pembatasan berekspresi atas nama menyinggung kelompok tertentu hingga penyalahgunaan posisi kekuasaan. Bahkan beberapa catatan sejarah bangsa kita masih ada yang dicap sebagai “koleksi arsip terlarang”. […]
Pengumuman Penerima Beasiswa Kelas Menulis Lakon Salihara 2025
Berdasarkan hasil penjurian dan diskusi yang dilaksanakan, Dewan Juri memutuskan bahwa dua orang yang terpilih menjadi Penerima Beasiswa Kelas Menulis Lakon 2025, yaitu adalah Majid Amrullah Alifya Maheswari Putri Wibowo Demikian berita acara ini kami sampaikan hendaknya diterima. Keputusan Dewan Kurator tidak dapat diganggu gugat. Komunitas Salihara akan menghubungi penerima beasiswa untuk informasi lebih lanjut. Jika memiliki […]
Risalah BPUPKI dalam “Rumah dengan Selembar Tikar”
Catatan pendek presentasi karya Aliansi Teras pada SIPFest 2024 Arsip pembentukan sebuah negara menjadi harta penting untuk merefleksikan kembali apa yang menjadi cita-cita bangsa dan apakah ia dapat terwujud di masa selanjutnya. Upaya merefleksikan kembali baik dari gagasan, visi dan tegangan-tegangan apa saja yang muncul ketika negara hendak dibentuk, dilakukan oleh kolektif teater Aliansi […]
Sandiwara, Identitas, dan Yang Liyan dalam “Theatre and the Other Self”
Pintu masuk Galeri Salihara membawa kaki kita pada sebuah ruang gelap, sempit, dengan atap terpal, alas karpet, buntalan kain dan tumpukan bantal di pinggirnya. Sebuah cahaya temaram memperlihatkan sepasang kerangka telapak kaki berjinjit di sudut kiri. Ruang sempit seperti lorong gelap tak lebih dari dua meter ini, membawa pengunjungnya pada perasaan ngeri usai disambut potongan […]